
Sejak disapa pandemi covid-19 pada awal tahun 2020 yang lalu semua siswa di Indonesia tidak diperbolehkan lagi belajar di sekolah. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengurangi penyebaran virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19.
Akibatnya, anak-anak harus belajar secara daring di rumah atau biasa dikenal dengan School From Home (SFH). Bahkan hingga tahun ajaran baru 2020-2021 dimulai, para siswa di seluruh Indonesia masih melakukan proses belajarnya secara daring.
Berbagai persoalan pun muncul di tengah maraknya belajar secara online ini. Mulai dari keluhan para ibu-ibu yang harus menjelma menjadi guru bagi anak-anaknya, hingga meningkatnya tingkat stress para orang tua karena tidak sanggup mengajari anaknya.
Baca juga: Pengendalian Perilaku Marah Orang Tua
Belum lagi yang orang tuanya bekerja sehingga kurang bisa memberikan pengawasan kepada anak-anak saat menggunakan gadged.
Tak hanya itu, para pendidik (guru) pun dituntut untuk lebih kreatif dalam memberikan materi pelajaran yang disajikan melalui kelas virtual. Bagaimana caranya agar anak-anak bisa betah dan tetap fokus menatap kaca gadget selama lebih dari 3 jam.
Problematika dan Solusi Mendampingi Anak Sekolah di Rumah

Tentu saja, butuh kesadaran untuk berhati-hati namun tetap berani menghadapi tantangan. Edukasi dan solusi sangat dibutuhkan demi membekali anak-anak menghadapi masa depan.
Ketika sistem sekolah tak bisa banyak berintervensi, orangtua mutlak lebih serius berperan. Dengan segala keterbatasan, kita harus tetap bersyukur setiap di kesempatan yang ada untuk terus belajar. Meski kondisi belum normal sepenuhnya, bukankah belajar parenting harus tetap jalan?
Sabtu (29/8) lalu Pondok Parenting Harum dan LKSA Harum mengadakan bincang parenting bertema Problematika dan Solusi Mendampingi Anak Sekolah di Rumah. Sesuai sekali dengan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi para orang tua di seluruh Indonesia.

Bunda Era dan Bunda Abyz
Bertempat di Ezo Coworking Space, bincang parenting ini dilaksanakan sesuai anjuran protokol kesehatan. Seperti, peserta wajib menggunakan masker, mencuci tangan/menggunakan hand sanitizer saat memasuki ruangan, dan tentu saja menjaga jarak.
Kalau biasanya coworking space bisa diisi dengan 100 peserta, kali ini hanya maksimal 30 peserta saja. Peserta yang hadir mayoritas adalah ibu-ibu dari anak asuh LKSA Harum.

Tetap jaga jarak dan menggunakan masker selama event berlangsung
Hadir pula alumni Sekolah Parenting Harum, yaitu Bunda Rosidah Erawati S.Pd (Bunda Era). Ibu dari 2 orang putera (Hilal dan Hisyam) yang juga ibu rumah tangga dan pekerja rumahan.
Melalui bincang parenting kali ini Bunda Era bercerita tentang proses mendampingi anak-anak belajar di rumah. Peserta yang hadir pun curhat berbagai problem yang muncul dan bersama Bunda Abyz Wigati, S,Psi membahas langkah-langkah mengatasinya.
Kalau sudah ngobrolin perilaku anak dan respon orangtua, pasti ramai rasanya. Ada tawa, tangis, sesal dan rasa lainnya. Karenanya, Bening (putri Bunda Abyz) pun turut hadir untuk menentramkan suasana dengan gesekan biolanya
.
Peserta Bertanya – Bunda Abyz Menjawab

Foto bersama untuk mengabadikan moment. Tetap menggunakan masker mulai awal hingga akhir kegiatan ^_^
Anak saya kecanduan gadged dan suka main game, tetapi masih bisa mengikuti kegiatan belajar. Bagaimana cara mengatasinya?
Tidak bisa dikatakan bahwa anak tersebut kecanduan gadged. Selama anak masih bisa melakukan kegiatan dan tanggung jawabnya, maka tidak masalah. Di zaman sekarang orang tua tidak bisa/agak sulit melarang anak bermain game. Maka dari itu peran orang tua sangat penting, dan harus memahami dunia anak.
Salah satu caranya adalah ikut bermain atau memahami tentang game yang dimainkan anak. Orang tua juga bisa bertanya tentang game yang dimainkan anak. Atau membawa game dalam bentuk lain yang dapat mengarahkan anak lebih positif (misal untuk belajar bahasa inggris, menggambar komik, dll).
Saya punya 3 anak, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Selama belajar daring, 2 anak perempuan bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, sedangkan yang laki-laki kurang bisa fokus dan sulit mengikuti belajar daring. Mengapa dan bagaimana solusinya?
Setiap anak lahir dengan karakter yang berbeda-beda. Sebaiknya orang tua tidak membanding-bandingkankan antara anak satu dengan yang lain. Ya, memang perempuan dilahirkan lebih multitasking dibandingkan dengan laki-laki. Sehingga orang tua harus memahami tipe anak, auditori, visual, atau kinestetik. Cara belajarnya pun harus disesuaikan dengan tipe belajar anak.
Apa suka dukanya saat mendampingi anak selama belajar dirumah? (pertanyaan untuk Bunda Era)
Pada saat awal-awal memang ada masa transisi, anak merasa bahwa libur krn covid-19 ya artinya libur tidak sekolah. Orang tua harus memahami masa transisi tersebut. Anak sempat tidak mau belajar dengan ibunya, dan setelah diskusi ternyata anak lebih cocok belajar dengan ayah. Jadi perlu untuk melibatkan seorang ayah juga.
Bagaimana mendampingi belajar anak dengan usia yang berbeda?
Jika anak sudah besar maka hanya perlu control saja, sedangkan untuk anak usia SD perlu bantuan lebih dari orangtua atau anak lebih mandiri. Lalu, Jika ada bayi di rumah maka perlu kerjasama dengan anggota keluarga yang lain. Misalnya ayah harus menjaga adek bayi sedangkan ibu yang mengajari kakak, atau sebaliknya.
Bagaimana cara mengatasi stres dirumah selama pandemi?
Dengan cara diisi kegiatan positif seperti menanam bersama, berkumpul dan sharing dengan keluarga, masak bersama, dll.
Bagaimana jika kedua orang tua bekerja di luar sehingga tidak punya waktu untuk mendampingi anak belajar di rumah?
Anak bisa bisa belajar dengan saudara, jika tidak punya saudara anak bisa belajar dengan teamn sekelasnya.
Terkadang ada kasus karena orang tua lelah dan tidak mau bertengkar dengan anak, maka tugas-tugas sekolah dikerjakan orang tua. Bagaimana pendapat narasumber?
Sebenarnya itu tidak baik untuk anak dan orang tua tidak perlu memaksa anak untuk belajar. Ketika anak tidak mau mengerjakan tugas maka tidak apa-apa. Bisa dikerjakan besok, tidak harus sesuai jadwal dari sekolah.
Bagaimana agar jadwal kegiatan anak memiliki porsi yang seimbang, agar tidak terlalu banyak bermain atau terlalu banyak belajarnya?
Anak bisa membuat kesepakatan jadwal sehari-hari bersama. Sebaiknya membuat jadwal dengan kesepakatan bersama, bukan dari orang tua saja. Kemudian orang tua bisa mengontrol, misalnya terlalu banyak porsi bermain atau belajar maka anak-anak bisa diingatkan.
Bagaimana kita menyesuaikan keadaan ketika belajar di rumah?
Proses belajar dirumah berbeda dengan ketika belajar di sekolah (keadaan normal) maka seharusnya tuntutan kepada anak juga berbeda. Sebaiknya orang tua juga bertoleransi juga kepada anak atas keadaan yang berbeda tersebut. Kemendikbud pun memberi banyak kelonggaran materi belajar di rumah. Jadi orang tua tidak perlu memaksakan anak.
Nah, itu dia rangkuman pertanyaan dan jawaban dari bincang parenting kali ini. Dalam sebuah proses belajar, yang lebih penting diupayakan adalah menumbuhkan kesukaan anak untuk terus belajar dan semakin mandiri dalam belajar.

Bening (putri Bunda Abyz) turut hadir untuk menentramkan suasana dengan gesekan biolanya

