Setiap tahun, peringatan Hari Kartini selalu menghadirkan dua kubu: yang merayakan dengan penuh semangat, dan yang mempertanyakan relevansinya. Perdebatan ini bukan hal baru. Bahkan, tidak sedikit yang dulu berada di posisi kontra—merasa bahwa banyak perempuan hebat lain yang juga berjasa, tetapi tidak mendapatkan ruang peringatan yang sama.
Namun seiring waktu, muncul pemahaman baru: yang tidak diperingati bukan berarti tidak dihargai. Kartini bukan sekadar sosok sejarah, melainkan simbol. Simbol keberanian untuk melawan tradisi yang tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.
Kartini dan “Perlawanan” di Setiap Zaman
Di masa R.A. Kartini, perempuan dibatasi aksesnya terhadap pendidikan. Kartini hadir membawa gagasan besar: perempuan berhak belajar, berpikir, dan berkembang.
Hari ini, bentuk “larangan” itu berubah wajah.
Bukan lagi soal perempuan tidak boleh sekolah, tetapi tentang generasi muda yang dibatasi cara belajarnya—terutama dalam dunia digital.
Generasi Z dan Alpha hidup di zaman yang sangat berbeda. Mereka tidak lagi mengandalkan sumber daya alam seperti generasi sebelumnya, tetapi memiliki kekuatan besar dalam teknologi digital. Sayangnya, ketika mereka mencoba mengeksplorasi dunia ini, tidak jarang justru mendapat resistensi dari generasi yang lebih tua.
Mulai dari:
- “Jangan main HP terus!”
- “Anak sekarang malas!”
- “Kerjanya cuma gadget!”
Padahal, di balik layar itu, bisa jadi mereka sedang belajar, berkreasi, bahkan membangun masa depan.
Antara Kekhawatiran dan Kontrol Berlebihan
Tentu, kekhawatiran orang tua bukan tanpa alasan. Banyak konten digital yang memang perlu disaring. Banyak risiko yang harus diantisipasi.
Namun, masalah muncul ketika:
- Orang tua hanya melarang tanpa membimbing
- Mengambil alih, bukan mendampingi
- Menyalahkan, tanpa memberi contoh
Akibatnya? Anak tidak belajar mengelola, hanya belajar menghindar. Ketika suatu saat mereka harus mandiri, mereka justru kebingungan.
Sebaliknya, ada juga suara yang lebih seimbang yang setuju bahwa teknologi boleh digunakan, selama anak tetap:
- sadar lingkungan
- tidak kehilangan empati sosial
- tidak tenggelam dalam dunia sendiri
Di sinilah peran orang tua menjadi krusial: bukan sekadar pengawas, tetapi pembimbing.
Belajar dari Luka: Ketika Anak Diminta Mengerti, Tapi Tidak Dicontohkan
Dalam diskusi yang sama, muncul sebuah cerita sederhana, tapi sangat dalam.
Seorang anak kecil dimarahi karena tidak menyapa orang yang lebih tua. Ia dianggap tidak sopan. Padahal, tidak ada contoh yang diberikan sebelumnya. Tidak ada pendekatan yang memahami bahwa anak tersebut pemalu dan introvert.
Yang terjadi? Bukan pembelajaran, tapi luka. Bahkan menjadi trauma yang terbawa hingga dewasa.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa seringkali anak diminta memahami dunia orang dewasa, sebelum orang dewasa mau memahami dunia anak.
Keteladanan: Bahasa yang Paling Dipahami Anak
Anak tidak belajar dari ceramah panjang. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua ingin anak:
- bijak menggunakan teknologi → tunjukkan caranya
- menghargai orang lain → mulai dari menyapa lebih dulu
- bertanggung jawab → beri mereka kesempatan mencoba
Keteladanan adalah bentuk pendidikan paling nyata.
Menjadi “Kartini” untuk Generasi Hari Ini
Hari ini, semangat Kartini tidak lagi terbatas pada perempuan. Ia relevan untuk semua—orang tua, pendidik, dan generasi muda itu sendiri.
Menjadi “Kartini” hari ini bisa berarti:
- Orang tua yang berani mengubah pola asuh lama yang tidak lagi relevan
- Memberi ruang anak untuk belajar, bukan hanya menuntut
- Mendampingi eksplorasi digital, bukan sekadar membatasi
- Mengakui bahwa dunia anak hari ini berbeda, dan itu tidak salah
Dan untuk generasi muda:
- Berani belajar dan berkembang
- Menggunakan teknologi dengan bijak
- Tetap memiliki empati dan kepedulian sosial
Penutup: Dari Kartini ke Kita
Kartini pernah melawan keterbatasan zamannya.
Pertanyaannya sekarang “Apakah kita justru menjadi “tradisi lama” yang menghambat generasi berikutnya?”
Atau kita memilih menjadi bagian dari perubahan—yang membimbing, bukan membatasi?
Karena sejatinya, perjuangan Kartini belum selesai. Ia hanya berganti bentuk.
Sumber
Artikel ini disusun berdasarkan rangkuman dan refleksi dari diskusi di WhatsApp Group (WAG) Alumni Sekolah Parenting, yang berisi pengalaman nyata, sudut pandang orang tua, serta dinamika pengasuhan di masa kini.

