
Boleh gak sih orang tua menikmati uang saku lebaran sang anak?
Kali ini Bunda Abyz sharing tentang cara mengelola uang saku lebaran anak-anak nih di acara RRI1 Malang.
Sebenarnya boleh-boleh saja ikut menikmati uang saku lebaran sang anak. Hanya mungkin ada proses yang perlu dilakukan secara lebih tepat. Kenapa? Ya agar penggunaan uang saku anak-anak ini lebih bermanfat baik bagi sang anak maupun orang tua.
Saat ini kan mudik pertama kali setelah 2 tahun ditahan, jadi anak-anak seperti panen gitu. Nah kalau nggak diarahkan maka bisa muncul perilaku-perilaku penggunaan uang yang kurang tepat. Misalnya, anak-anak menggunakan untuk membeli makanan atau mainan yang kadang-kadang juga kurang baik untuk mereka.
Biasanya hal inilah yang membuat orang tua emosi sehingga timbul konflik. Oleh karenanya orang tua nggak salah juga karena ingin mencegah hal tersebut. Tetapi mungkin caranya kurang pas sehingga menimbulkan konflik.
Hal inilah yang melatarbelakangi Bu Abyz ingin sharing terkait cara yang tepat bagi orang tua bisa lebih untuk mengajak anak-anak mengelola uang saku lebarannya.
Pentingnya Orang Tua Berkata Jujur
Menurut Bu Abyz, cara penyampaian orang tua ke anak sangatlah penting. Jadi, ketika menyampaikan “Uangnya dititipkan mama saja biar nggak hilang,” nah ini kan ucapannya dititipkan berarti ibu nggak boleh pakai.
Sebenarnya boleh dipakai, tetapi alangkah baiknya orang tua berkata jujur dan apa adanya kepada sang anak.
Misalnya “Perjalanan mudik ini kan butuh bensin ya, jadi urunan yuk buat beli bensin.”
Nah, seperti ini pun sebenarnya boleh asal penyampaiannya jelas, apa adanya dan mudah diterima sang anak.
Anak- anak juga perlu diajarkan untuk memahami bahwa tujuan berlebaran, berkunjung ke keluarga itu bukan untuk bersenang-senang. Akan tetapi ada nilai-nilai disitu yang perlu orang tua ajarkan pada anak.
Termasuk nilai kepedulian sehingga bukan orangtuanya saja yang terbebani dengan biaya mudik, beli kue lebaran, dan baju lebaran. Boleh kok melibatkan anak untuk memanfaatkan uang sakunya tapi dikomunikasikan dengan baik.
Anak Beranggapan Uangnya Akan Dikelola Sendiri
Lalu, bagaimana dengan anak yang tidak mau tahu dan berpikir bahwa ini uang saya jadi mau saya kelola sendiri?
Bagaimana cara memberikan pengertian kepada anak bahwa kita harus bisa berbagi?
Prinsipnya dalam mengomunikasikan hal ini sebaiknya orang tua memilih kata yang sifatnya tidak menekan tapi mengapresiasi.
Contohnya “Alhamdulillah kakak hari ini dapat rezeki banyak. Kakak kan orang baik, rezeki banyak ini ada loh sebagian adalah hak orang lain tidak semua kita miliki sendiri. Sehingga mama percaya kakak pasti mau untuk berbagi”.
Ini dilakukan supaya anak merasa bangga dengan dirinya sendiri. Dan berapapun yang anak ikhlaskan untuk berbagi jangan dipertanyakan tapi cukup diapresiasi. Sehingga sang anak akan merasa bahwa apa yang saya berikan ini bermakna.
Hal inilah yang kemudian akan menjadi stimulus bagi anak untuk tergerak melalukan hal baik yang lebih banyak lagi.
Pekerjaan Rumah (PR) Orang Tua Menjelaskan Kepada Anak
Tidak sedikit anak-anak yang bertanya “Uangnya mana?” ketika berkunjung ke rumah saudara di hari lebaran.
Menurut Bu Abyz hal tersebut bukan kesalahan anak-anak tetapi PR (pekerjaan Rumah) orang tua untuk menjelaskan. Sebaiknya sebelum berkunjung orang tua sudah menjelaskan lebih dulu tujuannya. Hal yang harus dilakukan dan apa-apa yang harus dihindari.
Biasanya saat orang tua mendengar anak berkata “Kok nggak dikasih uang?” maka anak akan langsung dipelototi.
Tetapi sebenarnya kalau anak berumur dibawah 7 tahun kalimat itu muncul karena spontan ya. Orang tua nggak perlu marah pada anak tapi lebih menetralisir suasana, yaitu dengan mengomunikasikan dengan tuan rumah.
Cara Mengatasi Anak Tamtrum karena Uang Saku Lebaran Sedikit
Bagaimana mengatasi anak yang masih berusia dibawah 7 tahun dan masih belum paham dengan penjelasan orang tua? Anak pun menjadi tantrum sambil berkata “Dia dapatnya banyak, aku dapatnya sedikit.”
Nah, ketika muncul persaingan seperti itu, apalagi yang harus dilakukan orang tua untuk memberikan pemahaman untuk anak-anak?
Sebaiknya orang tua tidak panik ya. Biasanya orang tua terdorong rasa malu gitu atau sungkan. Kepanikan orang tua justru membuat anak merasa perilakunya berhasil, ‘nggudo’ (bahasa jawa) nya berhasil.
Orang tua sebaiknya tenang sembari berkata, “Oh ya nanti kalau adek udah besar, pinter, mungkin bisa dapat lebih banyak lagi.” Intinya menjelaskan bahwa semua orang itu berpeluang mendapatkan rezeki. Hanya saja bahasanya disesuaikan dengan pemahaman anak sesuai usia.
Tips Kelola Uang Saku Lebaran Anak
Lalu, bagaimana jika anak sudah terlanjur tidak percaya kepada kedua orang tuanya? Misalnya karena 2 tahun yang lalu uang lebaran yang dititipkan anak ke orang tua jadi belanjaan kebutuhan sehari-hari?
Lebih sulit lagi ya kalau terlanjur tidak percaya, bisa jadi anak tambah pelit. Tapi tidak usah berkecilhati.
Pertama, orang tua harus mengakui dan meminta maaf kepada anak. Lalu sampaikan bahwa saat ini boleh tidak dititipkan lagi. Tapi orang tua juga perlu mengatakan kalau Ayah Bundanya tetap harus mengajarkan pengelolaan uang kepada anak-anak.
Bagaimana juga jika anak merasa diintervensi dan ada tekanan psikologis?
Nah, Ini tergantung usia anak. Kalau anak sudah remaja kemudian orangtua memaksakan ikut mengatur penggunaan uang maka akan membuat anak tidak nyaman.
Jadi intinya mengajak anak untuk mengelola uang dengan baik, bukan memaksanya sehingga anak akan merasa dipercaya. Karena kepercayaan yang diberikan orang tua kepada anak merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan dasar emosi pada anak.
Kalau anak-anak yang masih usia SD nah mereka kadang-kadang belum paham tentang pengelolaan uang nah ini anak perlu dibantu untuk mengelola uangnya. Bukan orang tua yang mengatur harus digunakan apa saja tetapi anak diajak untuk mengelolanya.
Berapa Usia paling ideal ketika kita memberikan kepercayaan pada anak untuk mengelola keuangannya sendiri?
Mungkin sebagian orang tua berpikir bahwa jika anak sudah remaja maka harus bisa mengelola uang saku selama 1 bulan. Ho ho ho, tidak bisa begitu ya Ayah Bunda, jadi harus melewati proses dulu.
Sesuai dengan teori psikologi tentang tumbuh kembang anak usia 7 tahun, anak sudah masuk fase kedua yang mana kemampuan otaknya sudah bisa membedakan baik-buruk, benar-salah secara bertahap. Mereka juga sudah memahami sebab akibat. Oleh karenanya di 7 tahun ini proses belajarnya didukung dengan stimulus-stimulus. Diajari secara bertahap, misalnya diajari mengelola uang selama 3 hari dahulu baru kemudian berlanjut sampai 1 bulan.
Sebagai orang tua, yang utama adalah senantiasa terbuka untuk berkomunikasi kepada anak terkait keuangan. Terutama kalau itu uang yang menjadi milik anak. Bukan berarti orang tua tidak boleh sama sekali menggunakan uang anak, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana orang tua bersedia untuk bersikap terbuka terkait penggunaan uang yang mungkin orang tua ikut menggunakan.
Nah prinsipnya dari proses itu anak juga akan bisa belajar bagaimana mengelola uang yang dia miliki baik itu dari pemberian orang lain atau dari pendapatannya sendiri. Belajar mengelola uang juga tidak bisa instan sehingga sejak dini kita boleh mengenalkan dan mengajak anak untuk mengelola uang yang dimiliki seberapapun besarnya.
Semoga bermanfaat ^_^
Good parenting untuk Indonesia yang lebih baik. Dari keluarga untuk bangsa.

