
Halo, Ayah-Bunda … Pada sesi Kamis Curhat di WAG Alumni Sekolah Parenting kali ini ada Bunda Abyz yang ingin cerita tentang jarum suntik. Mengapa ada orang yang takut dengan jarum suntik atau disuntik padahal sudah dewasa?
Begini cerita Bunda Abyz:
Awalnya saya dulu pernah mendapat keluhan dari beberapa orang guru dan tenaga kesehatan tentang perilaku anak-anak yang ‘aneh2’ ketika ada program imunisasi di sekolah.
Saat mengeluhkan ke saya sih sambil senyum-senyum dan ketawa-ketawa karena merasa lucu dan gemas gitu.
Nah, belakangan ini beberapa yang dulu mengeluhkan hal tersebut ke saya, menghubungi lagi. Tapi kali ini berbeda. Mereka mengeluh dengan kondisi serius, takut, dan cemas.
Penyebabnya adalah kabar terkait vaksin covid 19 yang diutamakan untuk tenaga kesehatan, tentara, dan guru. Awalnya saya pikir yang dikuatirkan adalah masalah vaksinnya yang memang ada pro dan kontra.
Tapi ternyata bukan. Kecemasan yang muncul adalah karena takut disuntik.
Lha kok bisa ya?
Apalagi kalo tenaga kesehatan kan seharusnya sudah biasa melihat proses penyuntikan pasien bahkan melakukannya.
Nah, sebelum Bunda Abyz melanjutkan pembahasan, baliau mempersilahkan para alumni untuk menanggapi kasus tersebut.
Tanggapan Alumni Sekolah Parenting Harum Terkait Jarum Suntik
Apa dan bagaimana kira-kira tanggapan para alumni terhadap orang yang takut jarum suntik? Ataukah para bunda di grup alumni ini punya pengalaman serupa? Yuk, lanjut baca ya Ayah-Bunda.
Banyak bu tenaga kesehatan yg takut jarum suntik
-Bunda N, tenaga kesehatan-
Kalau suami saya, waktu menikah dia takut jarum suntik. Alasannya waktu kecil pernah dipaksa suntik, digujer sampai nangis. Akhirnya dia trauma. Lalu sama orang tua juga sering ditakut-takuti, “nanti disuntik pak dokter loh”
Setelah punya anak, saya minta antar suami untuk donor darah. Awalnya dia gak mau lihat saya disuntik pas donor. Tapi setelah beberapa kali mengantar. Kami diskusi, donor darah adalah sedekah tanpa modal. Eh modal darah sih. Ya tapi kan kita pasti punya darah. Bisa donor rutin.
Sering saya guyoni juga, “mosok biasane nyuntik bojone, takut disuntik? ” 🤣🤣🤣 biar gak tegang lah ya…
Qodarullah suami pengen coba. Suntik pertama katanya deg-deg an. Kayak pengen lari. Tapi kan malu. Dia pun gak berani liat jarumnya.
Setelah berhasil, “ealah ternyata gak sakit”
Alhamdulillah sekarang rutin donor 🤗
-Bunda E.R-
Alhamdulillah saya tidak takut disuntik. Yang agak bikin trauma itu suntik tes alergi karena dibawah kulit. Asoy rasanya. Tapi kalau diambil darah dll, biasa aja.
-Bunda L-
Dulu pas masih anak-anak tiap disuntik saya mesti nangis. Karena saya merasa dibohongi. Pas pertama mau suntik imunisasi cacar umur 3th kalo gak salah. (Kalo pas bayi kan nggak tau dan nggak inget). Ibu saya bilangnya disuntik itu nggak sakit. Ternyata sakit banget. Saya jadi marah dan selalu nolak kalau mau disuntik.
Kadang sampai dokternya kuwalahan 😀🤭 Setelah dewasa suntik pertama saya waktu mau nikah (imunisasi TT). Duh… saya tuh ngomel-ngomel sama bu bidannya 🙈 Saya protes kenapa cuma yang perempuan yang harus disuntik TT 😂🤭
-Bunda A.W-
Lucu-lucu, kalau saya dulu dibilanginnya suntik itu seperti digigit nyamuk. Sakit sebentar. Alhamdulillah jadi no drama 😄
-Bunda Z-
Jadi, rata-rata yang takut jarum suntik itu punya pengalaman begini. Pas masih anak-anak sering ditakuti dengan kata ‘nanti disuntik pak dokter lho’.
Ada juga yang pernah merasakan bengkak pas habis disuntik (mungkin ada kesalahan dari tenaga kesehatan yang nyuntik) sehingga takut banget.
Eh, malah ditambahi dengan ditakut-takuti.
Tips Agar Anak Tidak Takut Jarum Suntik
Alangkah lebih bijak jika mengatakan pada anak-anak bahwa disuntik itu ya memang sakit tapi sakitnya tidak parah dan tidak terlalu lama. Lalu jelaskan pula tujuannya tenaga kesehatan menyuntik.
Jadi, wajar saja jika anak-anak berpendapat bahwa disuntik itu ya sakit. Hal itu berarti normal, seperti takut keiris pisau sehingga saat harus menggunakan pisau jadi berhati-hati, bukan tidak mau mengiris pakai pisau.
Terkait jarum suntik pun demikian. Kalau takut sakitnya disuntik, tapi sadar bahwa ada kondisi tertentu yang ‘terpaksa’ harus disuntik demi kesehatan, masih tetap mau disuntik (meskipun nangis, deg-degan dll) ya berarti masih normal-normal saja.
Bunda Abyz cenderung menyarankan untuk menerima bahwa disuntik memang sakit tapi tidak parah dan tidak lama. Lalu mensugesti diri sendiri dengan mengatakan dan memasukan ke otak secara berulang tentang manfaat disuntik.
Misalnya ‘meskipun disuntik itu sakit, tapi aku mau disuntik supaya obat cepat masuk dan kondisiku akan pulih’ atau kalau untuk vaksin ya kalimatnya disesuaikan.
Kalimat tersebut diucapkan berulang pada diri sendiri sambil mengelola nafas (tarik nafas, tahan, lepas perlahan).
Tiap orang mungkin berbeda reaksi ya. Karena ‘penyebab’ takutnya berbeda. Kalau sudah masuk ranah trauma, misalnya melihat jarum suntik sudah langsung gemetar ketakutan, keringat dingin, dan perut mules bahkan ada yang sampai pingsan. Maka penanganannya harus lebih serius lagi. 😊🙏
Jadi, hindari menakut-nakuti anak dengan ‘disuntik’ ya, Ayah-Bunda. Hindari juga mengatakan pada anak bahwa disuntik itu tidak sakit, karena yang kita rasakan belum tentu sama dengan yang dirasakan anak.
Sama halnya dengan makanan pedas, buat orang yang doyan pedes ya enak banget. Tapi buat yang nggak kuat pedes, ampuuun deh. 😀
Sekian cerita Bunda Abyz di Kamis Manis, semoga selalu optimis.
Salam good parenting untuk Indonesia yang lebih baik. Dari keluarga untuk bangsa.

