Di era digital yang serba terbuka, pergaulan remaja menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. Tak lagi cukup hanya dengan berkata “tidak boleh” atau “pokoknya begitu”, anak-anak kini butuh jawaban yang logis, menyeluruh, dan empatik atas berbagai pertanyaan seputar relasi sosial dan ketertarikan kepada lawan jenis.
Hal ini pula yang menjadi topik hangat dalam kegiatan sharing parenting rutin di grup WhatsApp alumni Sekolah Parenting Harum, yang kali ini dipantik oleh pengalaman Ibu Abyz. Ia membagikan kembali pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak remaja dalam sebuah kegiatan pembekalan bertema “Pergaulan Sehat Remaja” yang diadakan oleh Harum.
Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang diajukan oleh para remaja usia 12 hingga 18 tahun:
-
Mengapa pacaran tidak diperbolehkan, padahal kami saling suka dan merasa bisa menjaga batasan?
-
Bagaimana menanggapi teman lawan jenis yang menyatakan cinta?
-
Jika orangtua bertengkar karena saya bertemu teman lawan jenis, apa yang seharusnya saya lakukan?
-
Jika pernikahan bisa mencegah pergaulan bebas, mengapa menikah baru boleh saat dewasa?
Pertanyaan-pertanyaan ini menyentuh ranah yang sangat penting: kebutuhan remaja akan kejelasan dan komunikasi yang sehat, tanpa dikerdilkan dengan perintah sepihak atau larangan tanpa alasan.
Komunikasi Terbuka: Kunci Utama di Era Remaja
Menariknya, para ibu dalam diskusi tersebut saling berbagi pengalaman dalam menjawab dan menyikapi pertanyaan semacam itu. Ada yang sudah rutin menyisipkan pesan tentang relasi sehat sejak anak-anak memasuki usia pra-remaja. Ada pula yang mengaku masih belajar, terutama ketika anaknya mulai memasuki usia 17 tahun dan semakin banyak terlibat dalam aktivitas di luar rumah.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya membangun komunikasi terbuka sejak dini, bukan hanya saat anak mulai bertanya soal cinta atau relasi. Beberapa ibu menceritakan bagaimana mereka menggunakan pendekatan biologis, psikologis, dan agama secara terpadu untuk menjelaskan hal-hal sensitif. Misalnya, menjelaskan sistem reproduksi manusia saat anak mulai baligh atau berdiskusi tentang batasan dalam Islam mengenai hubungan lawan jenis secara logis dan tidak menggurui.
Ada pula yang mengambil pendekatan lebih naratif dan emosional. Salah satu ibu, misalnya, bercerita bahwa ia menyampaikan nilai-nilai relasi sehat melalui kisah rakyat Ande-Ande Lumut, diselingi lagu dan cerita, sebelum sampai pada larangan-larangan yang sifatnya eksplisit.
Larangan Tanpa Penjelasan: Pemicu Backstreet
Salah satu kekhawatiran terbesar para ibu adalah fenomena “backstreet”, yaitu hubungan yang dijalani secara sembunyi-sembunyi oleh anak karena merasa tidak didengarkan atau dimengerti oleh orangtua. Dalam diskusi, terungkap bahwa banyak remaja sebenarnya mau bertanya, tapi merasa sia-sia karena jawaban orangtua sering tidak jelas, membingungkan, atau bahkan menghakimi.
Kalimat-kalimat seperti “pokoknya tidak boleh”, atau “nanti juga kamu paham sendiri” membuat anak enggan membuka diri. Akhirnya, anak mencari jawaban di tempat lain—yang belum tentu memberi arah yang benar.
Para orangtua sepakat bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi larangan, tetapi memberikan pemahaman dan membangun kesadaran bahwa aturan dibuat bukan untuk mengekang, melainkan melindungi.
Membekali, Bukan Menghakimi
Yang menarik, tidak semua orangtua menanggapi isu pacaran remaja dengan pendekatan yang seragam. Ada yang memilih untuk membolehkan anak berelasi dengan lawan jenis dalam batas yang wajar dan tetap membekali anak tentang risiko serta tanggung jawabnya. Misalnya, menjelaskan bahwa ketertarikan itu wajar, tapi bagaimana mengekspresikannya harus melalui jalan yang benar dan terhormat.
Ada pula yang memilih pendekatan preventif dengan menyibukkan anak pada aktivitas positif, eksplorasi minat, dan pengembangan diri, agar energi remaja tersalurkan ke arah yang lebih bermakna dibandingkan urusan asmara yang belum waktunya.
Beberapa ibu juga menekankan pentingnya edukasi tentang konsekuensi pernikahan dini, baik secara medis, psikologis, maupun finansial. Semua itu bertujuan agar anak tidak hanya “taat” karena takut, tapi karena paham dan menghargai nilai-nilai yang ingin dijaga.
Menjawab dengan Hati dan Ilmu
Diskusi ini juga menegaskan bahwa tidak ada formula tunggal dalam menjawab pertanyaan remaja. Setiap anak unik, setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Yang paling penting adalah bagaimana orangtua menggabungkan ilmu dan empati, menyampaikan dengan cara yang bisa diterima oleh anak sesuai usia dan tahap perkembangan mereka.
Anak-anak remaja saat ini tumbuh dalam dunia yang sangat cepat berubah. Jika orangtua tidak sigap menjembatani pemahaman mereka, maka bisa jadi anak akan mencari “guru” lain yang belum tentu memiliki niat yang baik.
Akhir Kata: Mendengar Sebelum Menasehati
Salah satu pelajaran terbesar dari sesi sharing ini adalah: sebelum anak belajar mendengar orangtuanya, orangtua harus mau lebih dulu mendengar anaknya. Mendengar tanpa prasangka, tanpa langsung menilai, dan tanpa menyederhanakan rasa ingin tahu mereka sebagai “nakal” atau “tidak patuh”.
Pertanyaan-pertanyaan kritis dari anak remaja bukan ancaman, melainkan undangan untuk orangtua tumbuh bersama. Ketika anak mau bertanya, berarti ia percaya bahwa orangtuanya mampu memberi jawaban. Dan kepercayaan itu adalah fondasi terkuat dalam membangun relasi yang sehat antara orangtua dan remaja.
Semoga kita semua bisa menjadi orangtua yang hadir, peka, dan siap menjadi tempat bertanya yang aman untuk anak-anak kita. Karena dari sanalah tumbuh generasi yang tangguh, berpikir jernih, dan punya nilai yang kuat dalam menjalin pergaulan yang sehat.

