Setiap tanggal 15 Mei, dunia memperingati Hari Keluarga Internasional atau International Day of Families—sebuah momen yang bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga undangan untuk merefleksikan peran kita dalam keluarga, baik sebagai orang tua, anak, maupun anggota keluarga lainnya. Tahun 2025 ini, refleksi itu terasa semakin penting ketika kita dihadapkan pada kenyataan yang kontras: kemajuan teknologi digital yang luar biasa telah menghadirkan banyak kemudahan, namun secara tidak langsung juga membawa tantangan baru dalam kehidupan keluarga.
Menyoal Fungsi dan Peran Keluarga di Tengah Era Digital

Keluarga sejatinya adalah unit sosial terkecil yang menjadi pondasi utama dalam pembentukan karakter dan nilai-nilai kehidupan. Namun, seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi, muncul pertanyaan: apakah keluarga masih mampu menjalankan peran edukatif, afektif, dan protektifnya dengan maksimal?
Fenomena yang sangat jamak kita lihat hari ini adalah bagaimana quality time dalam keluarga berubah bentuk. Di restoran, taman, bahkan ruang tamu sendiri, banyak keluarga yang secara fisik bersama tetapi secara psikis terpisah. Masing-masing sibuk dengan gadget, tenggelam dalam dunia maya, dan kehilangan ruang untuk bercengkerama secara hangat.
Padahal, komunikasi antarpersonal dalam keluarga adalah fondasi dari kekuatan internal yang menjadikan keluarga tangguh. Tanpa komunikasi yang sehat, kelekatan emosional pun bisa merenggang, membuka celah bagi krisis-krisis yang lebih besar.
Tangguh: Lebih dari Sekadar Bertahan
Ketangguhan keluarga di era digital tidak hanya berarti mampu bertahan dari gempuran teknologi, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi, memilah informasi, dan membangun relasi yang sehat di tengah arus data yang tak terbendung. Dalam talkshow RRI Malang bersama pakar komunikasi keluarga Dr. Winda Hardianti dari Universitas Muhammadiyah Malang dan konselor keluarga dari Harum Family Center, Bu Abis Wigati, diskusi mengerucut pada urgensi mengelola dinamika digital dalam ruang keluarga.
Keduanya sepakat bahwa tantangan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana keluarga menyikapinya. Apakah teknologi digunakan sebagai alat untuk mempererat atau justru menjadi dinding pemisah antaranggota keluarga?
Peran Orang Tua Sebagai Navigator Digital
Di era serba digital, orang tua memiliki peran ganda: sebagai pelindung dan juga navigator. Mereka harus mampu menavigasi anak-anak mereka dalam menempuh lautan informasi, mengajarkan literasi digital, dan menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam berinternet.
Kunci utamanya adalah kehadiran dan keterlibatan. Bukan sekadar mengatur waktu layar (screen time), tetapi juga membangun interaksi bermakna. Misalnya, alih-alih melarang anak main game, orang tua bisa ikut bermain dan memanfaatkannya sebagai media pembelajaran dan diskusi nilai.
Keluarga sebagai Filter Informasi
Di tengah arus hoaks, ujaran kebencian, hingga konten tidak mendidik, keluarga menjadi filter utama. Anak-anak yang tidak mendapat pemahaman nilai sejak dini akan rentan tersesat dalam ekosistem digital yang kompleks. Oleh karena itu, peran edukatif keluarga harus dikembalikan ke posisi strategisnya.
Momen makan bersama, misalnya, bisa dijadikan waktu untuk berdialog ringan tapi bermakna. Pertanyaan seperti “Apa yang kamu pelajari hari ini?” atau “Adakah hal menyenangkan yang ingin kamu ceritakan?” bisa membuka ruang diskusi dan memperkuat kelekatan emosional antaranggota keluarga.
Membangun Budaya Komunikasi Positif
Dr. Winda Hardianti menekankan bahwa komunikasi dalam keluarga harus ditumbuhkan dengan prinsip empati, keterbukaan, dan respek. Teknologi digital memang bisa memperpendek jarak, tetapi juga bisa memperlebar kesenjangan jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang sehat.
Dalam banyak kasus, konflik keluarga bukan berasal dari perbedaan pendapat, melainkan dari ketidaksediaan untuk mendengarkan. Oleh karena itu, membiasakan dialog dalam suasana santai namun tulus, menjadi praktik penting untuk membangun ketangguhan emosional keluarga.
Menghidupkan Nilai Tradisional dalam Bingkai Modern
Nilai-nilai tradisional seperti gotong royong, hormat pada orang tua, dan tanggung jawab sosial tetap relevan di era digital. Tantangannya adalah bagaimana mengemas nilai-nilai tersebut agar tetap hidup dalam keseharian yang serbadigital.
Contohnya, anak-anak bisa diajak membuat konten positif tentang kegiatan keluarga, seperti memasak bersama, membersihkan rumah, atau membuat vlog edukatif yang menonjolkan nilai kekeluargaan. Teknologi, dalam hal ini, menjadi alat ekspresi nilai, bukan penghalang nilai.
Refleksi Hari Keluarga: Momentum atau Rutinitas?
Refleksi Hari Keluarga seharusnya tidak berhenti pada tanggal 15 Mei saja. Ini adalah titik awal, bukan titik puncak. Perubahan nyata harus ditumbuhkan dari hari ke hari, mulai dari hal kecil: membangun komunikasi, menghadirkan diri secara utuh di tengah keluarga, dan menjadikan teknologi sebagai sarana pemberdayaan, bukan pelarian.
Keluarga yang tangguh di era digital adalah keluarga yang tidak hanya hidup berdampingan dengan teknologi, tetapi juga mampu menempatkan teknologi pada tempatnya. Mereka sadar bahwa kehadiran fisik dan psikis jauh lebih penting daripada sekadar status online.
Penutup: Masa Depan Keluarga Ada di Tangan Kita
Menjelang pertengahan 2025, saat dunia semakin terdigitalisasi, pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri bukan lagi “Seberapa canggih teknologi kita?”, melainkan “Seberapa kuat keluarga kita?”. Sebab, sehebat apapun perkembangan zaman, keluarga tetaplah sekolah pertama dan utama bagi setiap manusia.
Maka, mari jadikan Hari Keluarga Sedunia 2025 sebagai tonggak perubahan. Perubahan yang dimulai dari ruang makan, ruang tamu, hingga ruang hati kita masing-masing. Mari hadir sepenuhnya untuk keluarga, demi menciptakan generasi masa depan yang kuat bukan hanya secara digital, tetapi juga secara moral, emosional, dan spiritual.
Selamat Hari Keluarga Sedunia 2025.
Mari bangun keluarga tangguh di tengah dunia yang terus berubah.

