Di tengah derasnya arus teknologi, adakah ruang tersisa bagi kisah-kisah yang dulu menghidupkan imajinasi masa kecil kita?
Bertumbuh dalam dekapan cerita rakyat dan dongeng adalah kenangan hangat banyak generasi. Namun kini, dengan anak-anak yang lebih akrab dengan layar daripada lembaran buku cerita, muncul pertanyaan penting: masih perlukah dongeng anak di era sekarang?
Acara “Malang Siang Ini” yang disiarkan secara lokal, mengangkat topik ini dengan penuh semangat. Dipandu oleh Miranti Rizki, diskusi ini mempertemukan berbagai narasumber dari dunia mendongeng dan psikologi anak—semuanya menyuarakan satu hal: dongeng tak lekang oleh zaman.
Dongeng di Era Digital: Redup atau Berevolusi?
Di masa kini, dongeng tak lagi hanya disampaikan dengan suara lembut menjelang tidur. Anak-anak bisa menemukan kisah tentang Timun Mas atau Kancil di YouTube, podcast, hingga aplikasi edukatif. Namun, apakah sentuhan digital menghilangkan esensi dongeng itu sendiri?
Tidak sepenuhnya. Justru, menurut Kak Mora—seorang pendongeng dari PPMI—medium hanyalah alat, namun ruh dari dongeng tetaplah pada nilai, ekspresi, dan interaksi.
Kisah Antan si Semut: Dongeng Bernyawa dari Bibir Kecil
Salah satu momen paling menyentuh dari diskusi tersebut adalah ketika Adifa Hafidah Rahma, seorang pendongeng cilik kelas dua SD, membawakan dongeng “Antan si Semut dan Sumo si Gajah Pemarah”. Dengan intonasi yang hidup dan ekspresi penuh makna, Adifa menunjukkan bahwa dongeng bukan sekadar cerita—ia adalah cermin karakter dan pemupuk empati.
Dari dongeng tersebut, anak-anak tidak hanya mendengar kisah lucu atau menegangkan. Mereka belajar bahwa ukuran bukan segalanya. Keberanian, kerja sama, dan kecerdikan bisa mengalahkan kesombongan.
Imajinasi Adalah Hak Anak
Menurut Adifa, dongeng memberinya ruang berimajinasi, mengekspresikan perasaan, dan menyampaikan pesan moral. Ia sering menciptakan cerita sendiri dari pengalaman hariannya. Dongeng baginya bukanlah pelarian dari dunia nyata, melainkan cara menjadikannya lebih bermakna.
Bahkan di antara teman-teman sekolahnya, Adifa dikenal sebagai si pencerita. Saat guru bertanya, “Siapa yang mau mendongeng?”, semua mata tertuju padanya.
Dari Ibu ke Anak: Rantai Dongeng yang Tak Boleh Putus
Adifa tumbuh bersama cerita-cerita dari sang ibu. Sebelum ia bisa membaca, ibunya rutin membacakan dongeng sebelum tidur. Kini, giliran Adifa yang membacakan untuk teman-temannya. Inilah warisan tak tertulis: kisah yang hidup dari lisan ke lisan, dari hati ke hati.
Lebih dari Hiburan: Fungsi Psikologis Dongeng
Bu Abis Wigati, seorang konselor anak dan keluarga, menekankan bahwa dongeng memiliki manfaat penting dalam perkembangan kognitif dan emosional anak. Ketika anak mendengar cerita, ia belajar mengenali emosi, membedakan benar dan salah, serta mengembangkan empati terhadap tokoh cerita.
Dongeng adalah alat sederhana yang menyentuh banyak aspek tumbuh kembang anak—dari pengolahan bahasa hingga pembentukan karakter.
Di Balik Layar: Dunia yang Kering Imajinasi
Gadget memang menawarkan hiburan instan, tapi kerap mengabaikan proses berpikir. Anak jadi lebih pasif dan kurang terbiasa membayangkan. Inilah mengapa dongeng penting: ia mengaktifkan daya pikir, mengasah rasa ingin tahu, dan menumbuhkan kedekatan emosional antara anak dan pendongengnya.
Antara Dongeng dan Gadget, Haruskah Memilih?
“Kalau disuruh memilih, Diva lebih suka dengar dongeng,” kata Adifa. Baginya, dongeng memberikan banyak ide dan pemahaman tentang nilai kehidupan. Gadget bisa menyenangkan, tapi dongeng membuatnya berpikir dan merasa.
Keseimbangan adalah kuncinya. Dongeng tak harus bersaing dengan teknologi, tapi bisa bersinergi. Bayangkan aplikasi bercerita interaktif dengan narasi khas Nusantara, atau podcast dongeng untuk menemani anak tidur.
Masa Depan Dongeng, Tergantung Kita
Dongeng bisa menjadi jembatan emas menuju masa depan anak-anak yang lebih berempati, kreatif, dan berpikiran terbuka. Tapi itu hanya mungkin jika kita—orang tua, guru, dan masyarakat—memberi ruang dan waktu untuknya.
Karena di balik setiap dongeng, tersimpan benih karakter. Dan karakter adalah pondasi peradaban.
Penutup
Dongeng bukan sekadar nostalgia. Ia adalah warisan budaya, alat pendidikan, dan pelindung nilai. Di era digital sekalipun, dongeng tetap relevan. Tidak, bukan hanya relevan—ia esensial.
Jadi, masih perlukah dongeng anak di era sekarang?
Jawabannya adalah: lebih perlu dari sebelumnya.

