
Dalam perjalanan menjadi seorang ibu, khususnya bagi ibu yang memiliki anak laki-laki, sering kali kita menemukan dinamika yang unik namun kompleks. Saya ingin berbagi pengalaman dan hasil pengamatan selama mendampingi beberapa klien konseling — para ibu yang merasa gelisah dengan perilaku anak laki-lakinya yang dirasa “tidak sesuai” dengan usia biologis mereka.
Konflik antara ibu dan anak lelaki terkadang dimulai dari hal-hal sederhana, namun berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, lebih emosional, dan sulit diredam. Mengapa demikian?
Antara Harapan Sosial dan Naluri Keibuan
Sejak anak laki-laki masih usia dini, kita sering secara tidak sadar menanamkan harapan sosial kepada mereka melalui kalimat-kalimat seperti:
-
“Laki-laki harus kuat!”
-
“Jangan cengeng.”
-
“Harus berani dong, masa takut sih?”
Tanpa disadari, ini menjadi doktrin yang tertanam dalam pikiran dan jiwa mereka. Sementara itu, di sisi lain, sebagai ibu, naluri keibuan kita justru mendorong untuk melindungi, memeluk, dan menjadi tempat aman mereka. Ketika ayah bersikap tegas atau keras, sering kali ibu tampil sebagai pelindung yang menyampaikan keberatan — bahkan cukup hanya lewat sorot mata.
Anak Laki-Laki yang Bingung: Antara Kuat dan Butuh Perlindungan
Di sinilah anak laki-laki mulai mengalami kebingungan. Ia merasa dituntut untuk kuat, tapi juga terbiasa mendapatkan perlindungan. Ketidakkonsistenan ini terkadang melahirkan sikap ambigu:
-
Tidak peduli, tapi diam-diam takut salah.
-
Ingin tegas, tapi takut dianggap keras.
-
Ingin berinisiatif, tapi bingung arah.
Akhirnya muncullah sikap, “Ya sudahlah, terserah,” yang biasanya muncul saat anak memasuki fase kedua perkembangan emosional (sekitar usia sekolah dasar akhir hingga remaja awal).
Kelekatan dengan Ibu: Tidak Terlihat, Tapi Nyata
Bagi anak lelaki, ibu adalah sosok yang lekat secara emosional, meski bentuknya tidak selalu ditampakkan secara langsung. Ketika anak memasuki fase ketiga (usia remaja akhir menuju dewasa), bentuk relasi mulai bergeser: anak lelaki mulai mencoba “mengatur” ibunya, meniru cara ibunya dahulu mengatur dirinya.
Dan inilah titik kritis dalam relasi ibu-anak lelaki. Si “lelaki kecil” kini tumbuh menjadi sosok yang mulai berani menentukan keputusan, bahkan untuk ibunya sendiri. Tapi, sang ibu? Belum tentu siap berada di posisi “diatur”.
Apakah Ini Salah? Tidak Juga.
Ketika anak lelaki berusaha mengatur ibunya, sejatinya ia sedang belajar menjadi pelindung. Ia sedang mencoba menjadi Hero — tokoh yang dulu sering ia saksikan dalam sosok ibunya sendiri.
Namun, karena belum cukup matang secara emosional, bentuk perlindungan ini sering kali belum sesuai dengan kebutuhan ibu. Akibatnya, bisa muncul benturan dan kesalahpahaman.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?
Berikut beberapa pendekatan yang bisa membantu ibu menyikapi fase ini dengan bijak:
-
Pahami, Jangan Langsung Mengkritik
-
Hindari memberikan komentar yang menyakiti harga dirinya.
-
Kritik yang terbuka bisa melukai keinginannya untuk melindungi.
-
-
Berikan Apresiasi
-
Ucapan terima kasih, kalimat kebanggaan, atau sekadar pelukan bisa sangat berarti.
-
Ini meneguhkan bahwa peran “Hero”-nya diakui.
-
-
Ajak Berdiskusi
-
Sampaikan kebutuhan ibu dengan cara yang tenang.
-
Gunakan momen yang tepat, bukan saat anak sedang bad mood.
-
-
Berikan Jeda dalam Penjelasan
-
Tidak semua hal harus disampaikan sekaligus.
-
Pahami bahwa anak butuh waktu untuk mencerna perasaan dan maksud ibu.
-
Penutup: Menumbuhkan Maskulinitas yang Sehat
Perjalanan membesarkan anak lelaki bukan hanya soal mengajarkannya menjadi kuat, tetapi juga bagaimana membantunya menyatukan kekuatan dengan kelembutan, keberanian dengan empati. Di sinilah peran ibu sangat penting: menjadi tempat pertama anak belajar mengenal dirinya — dengan segala kompleksitas peran sosial dan emosinya.
Mari terus belajar memahami dan mendampingi anak lelaki kita agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh, tidak hanya tangguh di luar, tapi juga hangat di dalam.

