
Hari Selasa, 8 Juli 2025 menjadi momen yang hangat dan penuh makna dalam program dialog interaktif Pros 1 RRI Malang. Dipandu oleh penyiar penuh semangat, Mbak Mira, siaran ini menyuguhkan diskusi bertema “Bertumbuh Bersama Gen Z”, membahas bagaimana karakter, potensi, hingga tantangan generasi muda saat ini dapat berkembang secara positif dengan dukungan keluarga, pendidikan, dan komunitas.
Dua narasumber dihadirkan dalam perbincangan: Bu Abyz Wigati, S.Psi., konselor anak dan keluarga dari Harum Family Center Malang, serta Hati Bening Asyahidah, seorang penulis sekaligus violinis muda perwakilan generasi Z.
Gen Z: Digital, Ambisius, dan (Katanya) Egois?
Menurut Bu Abyz, Gen Z—yakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—merupakan generasi yang tumbuh bersama kemudahan teknologi. Tak heran jika mereka kerap dilabeli malas, terlalu praktis, hingga egois. Namun, Bu Abyz menekankan bahwa persepsi ini perlu diluruskan.
“Label ‘malas’ sering muncul bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena mereka sudah terbiasa dengan akses informasi cepat dan praktis. Justru mereka cenderung efisien,” ungkapnya.
Bu Abyz menegaskan, tantangan utama orang tua dari Gen Z adalah bagaimana mampu beradaptasi, bukan sekadar mendampingi, tapi bertumbuh bersama.
Bening: Dari Biola, Buku, hingga Panggung

Kehadiran Hati Bening Asyahidah memberi perspektif langsung dari seorang Gen Z. Mahasiswi jurusan seni musik ISI Yogyakarta ini bercerita bahwa kecintaannya terhadap biola dimulai dari usia 7 tahun. Menariknya, pilihan belajar musik bukan paksaan, melainkan inisiatif pribadi, terinspirasi dari film kartun yang sering ia tonton.
“Dulu aku sempat enggak mau sekolah, tapi waktu dibelikan biola, aku jadi semangat lagi,” ujarnya.
Didukung penuh oleh orang tua, Bening menjalani homeschooling saat SMP dan memilih SMK Musik di Yogyakarta saat SMA. Kini, ia mengejar impian menjadi seorang musikolog, sambil tetap menulis puisi dan artikel di sela-sela konser dan jadwal akademiknya.
Belajar dari Anak, Bertumbuh Bersama
Satu hal yang menjadi benang merah dari diskusi ini adalah peran besar orang tua dalam membentuk ruang tumbuh anak. Bu Abyz berbagi pengalamannya sebagai ibu dari tiga anak Gen Z, masing-masing dengan potensi berbeda: ilustrator, editor, dan seniman musik.
Ia menyadari, mendukung anak bukan berarti selalu setuju, tapi mau mendengar, memahami, dan memberi ruang. Bahkan, ketika keputusannya berbeda dengan nilai-nilai generasi sebelumnya, seperti memilih homeschooling atau tidak langsung kuliah.
“Daripada memaksakan kehendak, lebih baik fokus pada sisi positif dan arahkan ego mereka menjadi motivasi,” jelasnya.
Komunitas, Teman, dan Ruang yang Tepat
Selain keluarga, Bening juga menekankan pentingnya lingkungan komunitas dan teman sebaya. Ia merasa termotivasi ketika bertemu teman-teman yang memiliki semangat dan minat yang sama di bidang musik.
“Di Jogja aku ketemu orang-orang yang tahu tujuan mereka. Itu bikin aku lebih yakin sama pilihan sendiri,” ujar Bening.
Dukungan dari sekolah, guru, dan lingkungan yang menghargai keberagaman potensi sangat memengaruhi rasa percaya diri dan arah hidup anak muda.
Menemukan Jalan Tengah: Komunikasi Jadi Kunci
Salah satu tantangan klasik Gen Z adalah komunikasi dengan orang tua. Bening mengakui, terkadang ia harus menjelaskan dengan logis dan tenang kepada orang tuanya tentang pilihan-pilihan yang ia ambil—termasuk ketika harus pulang lebih awal dari liburan demi persiapan konser.
“Yang penting itu keterbukaan, dan memahami sudut pandang orang tua juga. Komunikasi dua arah,” kata Bening.
Penutup: Dari Mendampingi Menuju Bertumbuh Bersama
Bu Abyz mengakhiri perbincangan dengan pesan kuat: “Bukan soal siapa yang harus menang, tapi bagaimana kita belajar saling memahami dan bertumbuh bersama.”
Menjadi orang tua dari Gen Z memang bukan perkara mudah, tetapi ketika komunikasi, dukungan, dan ruang eksplorasi diberikan dengan bijak, hasilnya tak hanya anak yang berkembang, tapi orang tua pun ikut menjadi pribadi yang lebih dewasa dan terbuka.
Program ini bukan hanya menghadirkan dialog, tapi juga refleksi mendalam bahwa di era digital, keterhubungan emosional tetap tak tergantikan. Dan pada akhirnya, kita semua belajar untuk bertumbuh bersama, bukan saling meninggalkan.

