
Halo Ayah-Bunda, pada sesi sharing di WAG Alumni Sekolah Parenting Harum kali ini ada Bunda Abyz yang sharing tentang anak genius.
Genius adalah sebuah istilah psikologi yang dalam bahasa Indonesia disebut anak ‘Berbakat’. Kondisi ini sebetulnya masuk kebutuhan khusus (biasanya di masyarakat disebut dengan ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus.
Bu Abyz sendiri merasa kurang pas dengan pilihan kata anak berbakat karena semua orang kan punya bakat meskipun tidak genius. Namun, pada buku-buku psikologi berbahasa Indonesia yang sering dipakai memang kata tersebut.
Lalu, Bagaimana Ciri-ciri Anak Genius?
Anak genius memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Rasa ingin tahu yang tidak terbatas
- Mampu mempelajari suatu keterampilan secara mandiri
- Mampu memahami informasi melebihi rata-rta anak seusianya
- Cenderung memiliki banyak ide
- Kosa kata yang dipahami setara orang dewasa
- Komitmennya sangat kuat
- Kreatif dalam berpikir dan bertindak
Jika anak-anak memiliki ciri-ciri tersebut bisa dilakukan observasi lebih lanjut untuk mengetahui kejelasan kegeniusannya. Bisa melalui tes psikologi atau lainnya.
Di psikologi biasanya akan dilakukan tes IQ, tes komitmen, dan tes kreativitas.
Jika memang anak masuk kategori ABK genius, maka orangtua perlu belajar mentreatment secara tepat.
Mengapa Genius Masuk Kategori ABK?
Mungkin sebagaian orang masih ada yang berpikiran negatif tentang ABK karena minimnya informasi yang diperoleh. Namun, anak genius juga masuk dalam kategori ABK karena mereka butuh perlakuan belajar khusus untuk mengimbangi kondisinya.
Bayangkan jika ada anak berusia 7th yang bicara soal perang dunia, ideologi negara, resesi ekonomi, jenis-jenis aliran musik atau lukisan.
Kira-kira teman-temannya akan menanggapi seperti apa? Bahkan orangtuanya pun bisa jadi jengkel meresponnya.
Oleh karenanya jika salah perlakuan, anak-anak genius akan mengalami stress bahkan depresi. Tak jarang, orang tuanya juga kuwalahan bahkan ada yg sampai menyerahkan anaknya ke orang lain karena merasa tidak mampu mengasuhnya.
Populasi anak genius itu tidak banyak, hanya sekitar 5% dari populasi. Jadi kalo ada kelas akselerasi yang isinya sampai lebih dari 10 anak, bisa dipastikan itu tidak semua anak genius. Atau bisa jadi dipaksakan genius. Harusnya orang tua protes karena anaknya normal kok dianggap ABK.
Jika Anak Genius Apakah Kondisi Psikisnya Juga Genius?
Menurut Bunda Abyz, bisa iya bisa juga tidak. Genius itu bukan berarti pinter atau hebat di segala hal/bidang. Tetapi, ada yang kuat banget di satu atau beberapa bidang tertentu dengan ciri-ciri seperti yang telah disebutkan sebelumnya dalam artikel ini.
Jadi ada yang kuat banget di sains tapi psikisnya seperti anak biasa. Tetapi ada juga yang psikisnya juga matang.
Jika Perlakuan pada Anak Genius Kurang Benar Apa yang Terjadi?
Tentu saja anak genius bisa stres jika orang-orang di sekitarnya memperlakukan secara tidak benar. Misalnya dengan kondisi psikis yang masih anak-anak fase 2 dan ingin main ini-itu. Tetapi dengan kemampuan yang sama dengan orang 18th, lalu dia harus menjalani hari-hari seperti anak usia 18tahun yang harus mengerjakan ini dan itu.
Apakah anak-anak genius selalu dittunjukan dengan angka IQ yang tinggi?
Sebatas pengetahuan Bu Abyz sih iya. Secara teori psikoligi, IQ anak genius di atas 130 atau di atas 135. Tetapi di psikologi populer orang sudahgak menggunakan patokan tes IQ.
Jadi pakai panduan ciri-cirinya saja.

