
Seperti biasa ya, Bunda Abyz juga sharing di streming Radio RRI Kota Malang. Nah, kali ini Bunda Abyz membahas tentang Menumbuhkan Kesantunan Bersikap pada Anak.
Jadi, sebetulnya tema kali ini adalah menanggapi keluhan para orang tua bahwa saat ini banyak anak yang kurang tata karma. Mereka lebih sering cuek dan memperlakukan orang tua layaknya teman sendiri.
Bagaimana Tata Krama atau Kesantunan yang Dipahami Anak-anak?
Gimana sih sebenarnya tata karma atau kesantunan yang dipahami oleh anak-anak kita?
Bicara tentang kesantunan, sebenarnya ada standar yang berbeda dan kita tidak bisa memaksakannya. Bukan berarti yang tidak sama itu tidak santun atau tidak mengenal tata karma. Nah, pernah kan dengar istilah ‘dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung’. Jadi terkait tata nilai kesantunan ya seperti istilah tersebut ‘dimana anak-anak ini berada maka orangtua perlu menunjukkan arah bahwa tata nilai yang berlaku disini seperti ini.’
Mengapa Tata Krama Menjadi Tanggung Jawab Orang Tua?
Lalu, kenapa hal tersebut menjadi tanggung jawab orangtua? Karena anak-anak itu kan berproses menjadi desawa dan dalam proses ini banyak yang harus mereka pelajari. Nah, yang bertugas untuk mengisi pelajaran-pelajarannya itu kita orang yang dewasa.
Orang dewasa ini kan sudah punya pengalaman-pengalaman hidup yang sudah dijalani sebelumnya. Sehingga dari situ sebenarnya kita bisa membantu anak-anak untuk memperoleh pelajaran-pelajaran tentang bagaimana menghadapi hidup, ya salah satunya persoalan tata karma ini.
Perbedaan Standar Tata Krama
Setiap orang atau setiap daerah memiliki standar yang berbeda dalam hal tata krama. Misalnya nih, di Jawa ada tata karma atau kesantunana terkait dengan bahasa yang digunakan. Ada bahasa jawa ngoko, kromo modyo dan ada juga kromo inggil. Hal tersebut masuk dalam nilai kesantunan, misalnya kalau berbicara dengan orang yang lebih tua sebaiknya pakai bahasa kromo inggil.
Hal seperti itu jika tidak diinformasikan ya wajar kalau anak-anak tidak tau walaupun disekolah dia belajar bahasa kromo inggil.
Lalu, Bagaimana Orang Tua Menyikapi Anak yang Dianggap Tidak Punya Sopan Santun?

Jadi kalau memang sudah diajarkan tapi anak-anak belum bersikap santun maka kita perlu koreksi kembali. Terkadang anak-anak itu tidak hanya perlu diberitahu tapi juga perlu diberi contoh.
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya bersikap santun terhadap orang tuanya tapi cara orang tua memperlakukan anak itu masih belum menunjukkan contoh bagaimana cara bersikap santun. Misalnya ‘kalau abis dikasih itu ya bilang terima kasih’ atau ‘habis ditolong ya bilang terima kasih’ tapi orangtua sendiri terhadap anak ketika anak melakukan hal-hal baik dianggap wajar saja tidak mengucapkan terima kasih.
Melalui hal itu kita bisa memaklumi ‘dari mana anak-anak ini belajar berterima kasih’ kalau dari kita orang tuanya tidak memberikan contohnya. Sikap kepedulian tidak tumbuh karena ada berbagai macam faktor, salah satunya dan paling utama yaitu bentuk keteladanan. Belajar keteladanan dari orang tua itu lebih menancap dan lebih bisa dipahami, kemudian menggerakkan untuk ikut melakukan.
Jadi, keteladanan ini cukup penting karena mencakup semua aspek dan terkait dengan kesantunan atau tata krama. Misalkan orang tua mengeluhkan ‘mama tanya satu kalimat kamu sudah menjawab panjang lebar, menyangkal, ngeyel sampek berpuluh-puluh kalimat’. Nah sekarang coba kembali diingat-ingat, sebetulnya anak yang pinter jawab/ngeyel juga berawal dari sering mendengar atau pernah diomeli oleh orang tuanya.
Pola Asuh yang Diterima Orang Tua Berpengaruh Kepada Anak
Zaman dulu, banyak dari kita yang ketika diomelin orang tua tuh kita tidak berani memandang. Tetapi sebenarnya di dalam hati dan pikiran tidak diam saja hanya tidak berani mengutarakan. Sehingga sebetulnya itu juga berpengaruh pada pola asuh kita kepada anak-anak tanpa disadari.
Terkadang ibu-ibu yang mengomeli anak-anaknya itu tidak sadar loh, perasaan cuma bilang dua tiga patah kata padahal berpatah-patah kata. Jadi sebenarnya tidak mengapa ini spontan dilakukan tetapi harus dekat dengan anak dulu.
Jika dekat dengan anak, mereka akan bisa menyampaikan apa yang menjadi pendapatnya, apa yang ada didalam pikiran dan perasaannya. Hal tersebut juga baik untuk kita sebagai orangtua karena bisa mengenali anak.
Bagaimana Cara Mengajarkan Sopan Santun Kepada Anak?
Banyak cara yang bisa digunakan oleh orang tua dalam mengajarkan sopan santun kepada anak-anak.
Melalui Diskusi
Saat orang tua melihat anak-anak berani berpendapat ketika diajarkan tentang sopan santun atau tata krama maka orang tua bisa mengajak anak diskusi. Melalui diskusi orang tua bisa menjelaskan dan mendengarkan pendapatnya.
Anak dan orang tua pun bisa menyimpulkan manfaat bersikap santun dan resikonya kalau tidak bersikap santun. Jadi, saat orang tua dekat dengan anak jangan negatif thinkin dan berpikir ‘gara-gara dekat nih jadi anak berani kepada orangtuanya’ ya.
Melalui kedekatan tersebut orang tua bisa tahu metode yang lebih tepat untuk mengajarkan pada anak mengenai sikap santun, misalnya tau aspek-aspek yang lain.
Menjelaskan Situasi Sesuai Usia Anak
Semua orang dewasa juga perlu memahami bahwa anak-anak di usia 0-7 tahun itu wajar apabila menolak untuk bersalaman dengan orang yang belum dikenal atau yang belum akrab. Kenapa seperti itu? Karena ini naluri kewaspadaan bahwa dengan orang yang belum dikenal ya harus berhati-hati dalam bersikap.
Jadi, orang tua tinggal menjelaskan saja pada anak bahwa situasinya seperti apa. Lalu, kita yang orang dewasa perlu menjelaskan pada orang tadi bahwa anak menolak untuk bersalaman ‘maaf ya anak saya tidak mau bersalaman karena belum kenal jadi tidak berani diajak bersalaman’ seperti itu.
Bagaimana jika anak-anak di usia tumbuh kembang yang pertama mudah akrab dengan orang lain? Nah, ini justru diajarkan juga bentuk kesantunan yang lain kalau terlalu akrab kan gawat juga nanti mudah diajak siapa saja. Sehingga perlu diajarkan bentuk kesantunan menolak seperti menolak ajakan orang.
Sebenarnya saya ingin menggaris bawahi bahwa bukan anak-anak ini tidak sopan atau tidak mau bersikap sopan tetapi mereka butuh kita orang dewasa untuk memberikan contoh, informasi atau arahan bagaimana sikap santun itu bisa dilihat, didengar dan dirasakan oleh anak sehingga anak bisa menduplikasi sikap santun itu dalam perilakunya sehari-hari.
Ketika kita orangtua melihat sikap kurang santun atau tidak santun pada anak maka bukan kta fokuskan untuk menegur saja tetapi kita juga tunjukkan sikap bagaimana sih yang seharusnya dilakukan oleh anak. Begitu juga dalam hal berbicara mengenai pilihan-pilihan kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi dengan anak itu bisa menjadi keteladanan bagi anak untuk juga mengucapkan kata-kata yang snatun. Sehingga membuat interaksi atau proses kemunikasinya itu enak, nyaman dan menguntungkan kedua belah pihak.

