
Komunikasi merupakan salah satu kunci keharmonisan dalam rumah tangga. Tidak hanya dapat diterapkan pada pasangan, komunikasi yang baik juga harus terjalin antar anggota keluarga. Tidak terkecuali pada anak-anak. Salah satu caranya adalah dengan membangun budaya curhat dalam keluarga.
Ada banyak alasan mengapa membangun kebiasaan bercerita pada anak sangat disarankan, satu diantaranya adalah supaya kita dapat menciptakan keluarga yang hangat, saling menerima kebaikan dan kekurangan antar anggota keluarga.
Mengapa Membangun Budaya Curhat dalam Keluarga itu Penting?
Abyz Wigati, S.Psi memaparkan secara gamblang mengenai pentingnya budaya curhat dalam keluarga. Konselor Anak dan Keluarga dari Harum Family Center itu juga mengungkap bahwa kebiasaan ini dapat membuat anak merasa diterima di dalam keluarga, sehingga tidak memerlukan pengakuan publik di media sosial.
Dirinya pun mengaku bahwa sulit untuk membangun budaya curhat dalam keluarga, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
“Budaya curhat dalam keluarga itu susah dilakukan. Curhat itu enaknya dengan teman, tapi kita harus coba membangun budaya ini dalam keluarga kita. Demi keutuhan keluarga,” ungkapnya.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam sebuah talkshow yang disiarkan secara live melalui kanal YouTube RRI Malang Official, Selasa (10/1/2023).

Disebutkan oleh Abyz Wigati bahwa keluarga merupakan masyarakat yang kita kenal pertama kali. Khususnya bagi anak-anak. Maka dengan membangun budaya curhat dalam keluarga akan memberikan banyak manfaat.
Salah satu dari manfaat yang bisa dirasakan adalah kita mengawali sebuah proses keterbukaan antar anggota keluarga. Inilah yang menjadi kunci terciptanya komunikasi yang baik dalam keluarga. Kemudian kita mendapatkan keluarga yang utuh. Sebab dengan adanya keterbukaan, kita bisa saling percaya serta menerima satu sama lain.
“Ketika kita curhat ke teman, kemudian kebetulan kurang pas, lalu si teman bercerita ke temannya yang lain. Akhirnya ini jadi semacam sebar-sebar aib. Nanti yang didapat bukan solusi, bukan kenyamanan, tapi bisa memunculkan masalah baru,” terang Abyz Wigati.
Ketika seorang anak telah terbiasa bercerita dengan keluarga, bukan berarti ia tidak boleh bercerita atau curhat pada teman sebayanya. Begitu pula ketika anak cenderung senang bercerita dengan teman, bukan berarti hubungannnya dengan keluarga kurang baik.
Saat orang tua merasa anak lebih banyak bercerita kepada orang lain daripada keluarga, maka kita sebagai orang tua sebaiknya melakukan introspeksi diri. Ada kemungkinan anak merasa respon yang kita berikan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
“Orang tua seringkali merasa pengalamannya sudah jauh lebih banyak daripada anak, kemudian lupa bahwa persepsi anak memandang suatu masalah dengan orang dewasa itu beda,” papar Abyz.
Pentingnya Respon Positif Jika Anak Curhat Kepada Orang Tua

Terkadang ketika anak menceritakan permasalahannya kepada orang tua, mereka mendapatkan respon yang membuat masalah tersebut seolah tidak penting, hal sepele bagi orang dewasa. Sementara bagi anak, itu bisa saja merupakan masalah yang besar. Respon seperti itulah yang membuat anak kemudian enggan bercerita dengan orang tuanya.
Pada akhir diskusi Abyz Wigati, S.Psi menekankan bahwa keluarga yang sehat bukan keluarga yang tanpa masalah, melainkan keluarga yang dapat menerima satu sama lain.
“Mari kita menumbuhkan keluarga yang hangat, bukan keluarga yang formalitas. Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tanpa masalah, tetapi keluarga yang sehat adalah keluarga yang bisa berproses untuk saling memberi dan menerima satu sama lain,” pungkasnya.
Maka dari itu penting bagi kita membiasakan komunikasi yang baik dalam keluarga. Sebab anak akan mencontoh bagaimana orang tua atau keluarganya dalam berkomunikasi. Apabila antara ayah dan ibu saling tertutup, maka ada kemungkinan anak pun akan melakukan hal yang sama.

