Setiap kali musim liburan tiba, banyak orangtua dibuat bingung: “Anakku harus ngapain selama liburan?” Sementara itu, di sisi lain, banyak anak justru ingin satu hal yang sederhana—bebas.
Fenomena ini bukan sekadar soal kegiatan pengisi waktu, tapi menggambarkan perbedaan sudut pandang yang cukup mencolok antara orangtua dan anak-anak mereka. Liburan, yang seharusnya menyenangkan, sering berubah menjadi ladang tarik-menarik antara harapan dan kenyataan.
Orangtua Ingin Produktif, Anak Ingin Santai
Banyak orangtua mengaku sibuk mencari informasi kegiatan liburan. Ada yang bahkan sampai menawarkan sponsor agar komunitas parenting membuatkan program khusus anak-anak. Alasannya beragam—biar anak tidak main game terus, tidak malas-malasan, tetap ibadah, atau supaya tidak “mengganggu” pekerjaan orangtua di rumah.
Namun jika kita bertanya pada anak-anak? Banyak dari mereka justru ingin slow life. “Liburan itu waktunya santai, main bareng keluarga, jalan-jalan, atau rebahan tanpa tugas,” curhat sebagian anak. Harapan yang sederhana, namun kerap tertabrak ekspektasi dewasa.
Kegiatan Sederhana di Rumah: Solusi yang Humanis

Beberapa orangtua memilih menghindari program luar dan menciptakan kegiatan bermakna di rumah. Seperti yang dilakukan oleh Bunda A—anak-anaknya tak tertarik ikut kelas liburan, jadi liburan diisi dengan masak bareng, crafting, bantu packing dagangan, hingga les renang bersama.
Bunda A pun punya strategi serupa: mengajak anak-anak membuat sesuatu dan bermain dengan anak tetangga. Aktivitas fisik seperti main bola, badminton, atau bersepeda menjadi pilihan alami untuk menjauh dari layar gadget.
Yang menarik, Bunda D yang menerapkan sistem screen time ketat: maksimal 30 menit per hari dan hanya jika tugas rumah selesai. Bahkan ada yang menyimpan televisi di lemari saat anak berlibur di rumah neneknya. Sebagai gantinya? Permainan papan seperti ular tangga dan kartu edukatif.
Tantangan dari Lingkungan: Realita yang Harus Dihadapi
Sayangnya, tak semua keluarga punya nilai pengasuhan yang sejalan. Di lingkungan desa, misalnya, anak-anak kecil sudah memiliki ponsel pribadi. Sulit mengharapkan edukasi gadget yang ideal ketika pendidikan orangtua di sekitar masih terbatas.
Solusinya? Bukan menjauh, tapi mendekat. Salah satu strategi yang dilakukan adalah membangun komunikasi dengan ibu-ibu tetangga. Bila tidak bisa, ajak anak bermain dengan teman yang lebih sefrekuensi. Dan jika itu pun sulit, bangun pondasi relasi yang kuat di rumah agar anak tetap teguh pada nilai-nilainya meski berbeda dari teman-temannya.
Bonding yang Kuat: Kunci di Tengah Arus Pengaruh
Bu Abyz, konselor anak dan keluarga di Pondok Parenting Harum, menggarisbawahi pentingnya bonding. Ketika hubungan anak dan orangtua kuat, anak akan menjadikan orangtuanya sebagai panutan. Mereka lebih percaya diri meski berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Namun, bonding bukan hasil instan. Perlu proses yang konsisten, sabar, dan kadang… melelahkan. Saat orangtua lelah dan tak mampu mengontrol emosi, bisa jadi bonding yang sudah dibangun runtuh karena ucapan atau sikap yang tak terkendali.
Karenanya, penting bagi orangtua untuk terbuka pada anak. Mengakui saat sedang emosi, lelah, atau sedang PMS bukanlah kelemahan. Justru itu menunjukkan kejujuran dan membentuk anak yang empatik serta memahami bahwa orangtuanya juga manusia.
Liburan sebagai Momen Reflektif, Bukan Sekadar Produktif
Liburan anak tidak harus diisi dengan segudang aktivitas berlabel edukatif atau produktif. Terkadang, liburan terbaik adalah yang memberikan ruang bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri, mempererat relasi dengan keluarga, dan beristirahat dari rutinitas yang padat.
Dan bagi orangtua, liburan bisa menjadi momen reflektif: apakah selama ini kita sudah cukup mengenal dunia batin anak? Apakah kita sudah membangun kedekatan, bukan hanya mengatur kegiatan?
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk liburan anak yang menjadi ukuran sukses, tapi seberapa besar kebahagiaan dan makna yang tertanam di dalamnya.
Selamat menikmati liburan, dengan penuh makna, bukan hanya rencana.
Karena momen bersama anak tak akan pernah terulang dua kali dalam cara yang sama. 🌈

