
Pandemi belum berakhir dan sekolah jarak jauh masih terus berlangsung hingga saat ini. Begitu juga dengan semua kegiatan yang melibatkan banyak peserta sebaiknya ditunda dulu. Atau jika terpaksa kegiatan bisa dilakukan dalam kelompok kecil (jumlah peserta terbatas) dengan tetap mematuhi protocol kesehatan.
Seperti bincang parenting yang diadakan oleh Sekolah Parenting Harum beberapa waktu lalu, bertema “Problematika dan Solusi Mendampingi Anak Sekolah di Rumah”
Oleh karena terbatasnya ruang gerak secara offline, berbagai acara online pun digelar. Salah satunya adalah kegiatan parenting seperti yang dilakukan oleh SMPIT Insan Permata Malang. Sebagai salah satu upaya menjaga sinergi antara orang tua (rumah) dan guru (sekolah).
Dilaksanakan via zoom meeting pada Sabtu (12/9) lalu, tema yang diambil dalam parenting series kali ini adalah Membangun Pola Komunikasi dan Kedisiplinan pada Anak dengan narasumber Bunda Abyz Wigati, S,Psi.
Pola Komunikasi untuk Menumbuhkan Disiplin Anak Remaja
Berikut ini adalah ringkasan materi yang disampaikan oleh Bunda Abyz Wigati, Konselor Anak dan Kaluarga dari Pondok Parenting Harum.
Prinsip dalam pola komunikasi, seperti yang disampaikan Bunda Abyz adalah “Jika Anda ingin dimengerti orang lain maka mengertilah orang lain.
Siapa sih yang tidak ingin dimengerti? Pastinya setiap orang ingin agar perasaannya, keadannya, bahkan cara pandangnya dimengerti orang lain.
Tapi sayangnya saat kita menuntut orang lain mengerti justru kita sendiri yang gagal memahami kondisi orang lain. Cirinya adalah kita hanya ingin didengarkan tanpa mau mendengarkan.
Nah, tentu saja hal ini juga berlaku untuk anak-anak. Jika orang tua ingin dimengerti oleh anak, maka orang tua juga harus mengerti anak. Salah satu caranya adalah dengan komunikasi yang tepat sesuai tumbuh kembang mereka.
Dalam kondisi normal, fase tumbuh kembang anak remaja – dewasa berusia ±12 – 18 tahun (baligh – akil). Nah, dalam usia ini anak-anak memiliki minat yang tinggi untuk belajar dan berkarya, serta daya juang yang tinggi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Secara emosional anak remaja juga bergejolak dan sensitive ya, ayah-bunda. Sedangkan secara sosial mereka ini dekat dengan teman sebaya.
Pola Komunikasi yang Tepat dengan Remaja

Biasanya banyak tantangan yang dialami orang tua saat anak-anak sudah menginjak usia remaja. Salah satunya dalah menerapkan gaya komunikasi. Menurut Bunda Abyz, gaya komunikasi berikut inilah yang lebih tepat digunakan saat berkomunikasi dengan anak usia remaja.
Apresiatif
Gaya komunikasi pertama adalah apresiatif oleh karena apresiasi sangat penting untuk perkembangan mentalnya. Memberikan apresiasi pada hal baik yang dilakukan anak bisa mendorong mereka untuk punya perilaku positif.
Tegas dan Santun
Gaya komunikasi selanjutnya untuk remaja adalah tegas. Ya, berbicara kasar bisa membuat anak remaja tergores harga dirinya. Untuk menasehati anak sebaiknya dilakukan dengan cara santun namun tetap tegas. Hal itu membuat anak remaja mau menerima nasehat dengan lebih baik.
Gaul
Pada remaja, pengaruh teman sebaya sangat berpengaruh. Coba perhatikan, biasanya persentase waktu anak bergaul dengan teman sebaya jauh lebih besar daripada berkumpul dengan orang tuanya. Nah, ketika berkumpul dengan teman sebaya itulah terjadi proses pertukaran pengaruh, seperti penampilan, sikap, dan perilaku.
Tidak ada salahnya jika orang tua juga sedikit tahu atau paham bahasa gaul ^_^ Berbicara dengan bahasa gaul bisa membuat lebih dekat dengan anak karena mereka akan merasa berbicara dengan temannya.
Berkesesuaian dengan Gaya Belajar
Gaya belajar anak akan berbeda satu dengan lainnya. Ada yang lebih suka belajar lewat mendengarkan, ada yang lebih tertarik dengan melihat gambar, ada yang semangat jika bersentuhan langsung dengan objeknya, dan tidak sedikit yang belajar sambil bergerak ke sana kemari.
Nah, gaya komunikasi dengan remaja juga lebih pas jika dilakukan sesuai gaya belajarnya. Misalnya jika gaya belajar anak adalah auditori, maka ayah-bunda bisa loh berkomunikasi dengan mereka sambil diskusi. Mengapa? karena anak auditori biasanya suka sekali diajak berdiskusi untuk merekam informasi.
Tentang Disiplin

Pada materinya, Bunda Abyz juga menyampaikan tentang disiplin yang tidak identik dengan hukuman. Tentunya, setiap orangtua berusaha untuk mengajarkan sikap disiplin kepada anak dengan harapan anak mampu menjalani hidupnya secara mandiri.
Tapi maksud orang tua tersebut tidak mudah diterima oleh anak-anak. Tidak sedikit yang menganggap bahwa disiplin adalah sebuah pengekangan. Oleh karenanya dibutuhkan proses yang tepat dan tidak melulu fokus pada hasil.
Nah, disiplin tidak identik dengan hukuman ya, Ayah-Bunda. Hukuman bersifat menyakiti anak dan menakutkan. Disiplin dengan cara seperti ini belum tentu bisa membuat anak sadar.
Lalu, bagamana proses menumbuhkan kesadaran berdisiplin pada anak?
Untuk anak usia 0 – ±7 tahun, disiplin bisa dilakukan dengan memulai kebaikan yang menyenangkan bagi anak. Sedangkan untuk anak usia remaja (± 7- 12 tahun) bisa dilakukan dengan support dan control. Lalu, untuk anak usia ± 12- 18 tahun disiplin bisa dilakukan dengan memberikan amanah/tanggung jawab sesuai kesanggupan.
Misalnya dengan mendiskusikan tentang pilihan kehidupan masa depa, memberi kewenangan terkait hal-hal yang menyangkut kepentingan anak (misal; jadwal kegiatan sehari-hari, pilihan sekolah dan jurusan), memberikan tugas ‘penting’ yang menjadi tanggungjawabnya, atau bisa juga dengan melibatkannya dalam proses evaluasi dalam aktivitas di kehidupan sehari-hari.
Perilaku adalah Respon dari Stimulus (Informasi)
Respon adalah perilaku yang lahir sebagai hasil masuknya stimulus (informasi) ke dalam pikiran seseorang. Proses pembelajaran yang baik adalah yang memungkinkan terjadinya relasi antara stimulus dan respon dengan baik. Oleh karenanya stimulus harus benar- benar dapat memberikan rangsangan.
Nah, stimulan psikis bersifat berkelanjutan di sepanjang proses pengasuhan, beda fase tumbuhkembang maka beda pula cara dan stimulus yang dibutuhkan meski komponen stimulusnya sama.
Meliputi :
- Kelekatan, Keteladanan, Bimbingan dan kehangatan
- Memenuhi kebutuhan dasar Psikis anak (rasa aman, berharga, percaya)
- Good Parenting untuk Indonesia Lebih Baik
- Dari Keluarga untuk Bangsa
Itu dia ringkasan materi dari Bunda Abyz terkait Pola Komunikasi untuk Menumbuhkan Disiplin Anak Remaja. Semoga bermanfaat ya, Ayah-Bunda. Jika ada pertanyaan atau hal yang ingin didiskusikan bisa menuliskannya di kolom komentar atau mengirimkannya dalam bentuk email kepada kami.
Salam Good Parenting. Untuk Indonesia yang lebih baik. Dari keluarga untuk bangsa ^_^

