Akhir-akhir ini ada berita tentang kekerasan di media yang beberapa pelakunya adalah anak-anak (usia di bawah 8 tahun). Pas sekali ya jika tema ini diperbincangkan banyak orang baik secara online maupun offline.
Seperti Selasa (12/10) lalu di Lintas Malang Siang, Bunda Abyz sharing parenting dengan tema Anak Sebagai Korban dan Pelaku Kekerasan.

Kekerasan ada beberapa jenis, kekerasan verbal, fisik, psikis dan, kekerasan seksual, dimana anak-anak mengalami sebagai korban ataupun pelaku.
Nah, yang memprihatinkan adalah pelaku tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan tindak kekerasan. Khususnya para orang tua yang kerap melakukan tindak kekerasan pada anak dengan dalih mendisiplinkan anak.
Orang tua seringkali tidak menyadari jika memberikan label negatif kepada anak adalah tidak kekerasan. Bahkan memukul dan mencubit dengan tujuan agar anak jera juga bisa disebut sebagai kekerasan.
Kekerasan yang dolakukan orang tua ini bisa ditiru oleh anak yang akan dilampiaskan kepada teman sebaya atau yang lebih lemah. Dampak inilah yang paling mengkhawatirkan yaitu anak sebagai korban kekerasan juga berpeluang menjadi pelaku kekerasan.
Tindak kekerasan yang didapatkan anak, entah dari orang tua atau teman akan tersimpan di memori bawah sadarnya. Hal inilah yang kemudian mendorong anak melakukan hal yang sama. Contoh sederhananya “jika ibuku boleh memukulku berarti aku boleh memukul temanku”
Lalu, tindak kekerasan ini pasti muncul pada pihak yang posisinya lebih lemah. Misalnya, ayah melakukan kekerasan pada istri. Kemudian istri menyalurkan kejengkelannya kepada anak karena tidak berani membalas kepada suami.
Kekerasan Psikis yang Tidak Tampak tapi Membekas
Kekerasan bisa terjadi di mana saja, tidak hanya di rumah tapi juga di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Namun, efek dari tindak kekerasan tidak semua tampak dengan jelas. Kalau kekerasan psikis yang terluka adalah hati dan tidak terlihat. Hal inilah yang sering tidak disadari oleh para orang tua.
Bagaimana dampak kekerasan terhadap anak pada tumbuh kembangnya?
Hal ini tergantung bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap anak dan daya tahan tubuhnya. Secara umum anak yang sering mengalami tindak kekerasan oleh orang lain biasanya cenderung menghambat tumbuh kembangnya. Misalnya kepercayaan diri yang juga berpengaruh pada kemampuan intelektual, sosialisasi, muncul trauma sehingga untuk bergaul dengan orang lain akan ragu dan muncul kecemasan.
Jadi luas banget dampaknya dan yang paling memprihatinkan adalah anak-anak yang menjadi korban kekerasan berpeluang menjadi pelaku kekerasan.
Bagaimana Cara Mencegah Kekerasan pada Anak

Edukasi Tentang Dampak Kekerasan kepada Anak
Pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan edukasi kepada orang dewasa. Seperti penjelasan tentang dampak ketika anak dipukul atau dibentak.
Persoalannya ketika orang dewasa melakukan kekerasan pada anak, biasanya orang tersebut pada masa anak-anak juga korban kekerasan. Jadi kalau ada orang dewasa yang merasa baik-baik saja padahal telah melakukan kekerasan pada anaknya tanpa disadari berarti dia butuh bantuan untuk berdamai dengan masa lalu.
Oleh karena itu, sebaiknya tidak hanya mengedukasi tapi juga memberi bantuan kepada anak-anak ataupun orang dewasa yang pernah mengalami korban kekerasan. Selain itu orang dewasa juga harus memberi contoh yang baik kepada anak-anak.
Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak
Cara selanjutnya untuk mencegah anak menjadi korban kekerasan adalah dengan menumbuhkan rasa percaya dirinya. Ajari anak-anak bergaul yang sehat sehingga ketika dia jauh dari ortunya dia bisa bermain dengan temannya sehingga tidak menyendiri.
Dalam membersamai tumbuh kembang anak orang tua juga perlu menanamkan simpati, empati, dan nilai kepedulian. Yakinkan anak agar tidak melakukan kekerasan terhadap teman-temannya.
Mengenalkan Konsekuensi pada Anak
Tidak sedikit orang tua yang melakukan kekerasan pada anak dengan dalih memberikan hukuman. Misalnya, karena malu maka orang tua mencubit atau memukul anak agar segera diam ketika tantrum. Dari situ kan anak belajar memukul.
Sebaiknya orang tua mencari tahu, tantrumnya karena apa?
Minta perhatian, misalnya. Coba anaknya dipeluk kalau masih balita. Nah kalau sudah besar ya lain lagi, harus dikenalkan dengan konsekuensi. Kalau orang tua membentak dan memaki tapi tetap menuruti keinginan anak ya percuma. Maka bisa saja anak akan tantrum lagi karena belajar dari kesalahan orang tua.
Berikan Perhatian untuk Ibu
Biasanya ibu-ibu yang keluar kata-kata tidak baik kepada anak itu lagi suntuk dan sumpek. Nah, marilah para suami memberikan perhatian kepada para ibu sehingga juga memberikan perhatian dan kata sayang pada anak.
Bagaimana Ketika Anak Kita Menjadi Pelaku Kekerasan
Tentunya ada banyak faktor tapi yang jelas jika anak-anak menjadi pelaku kekerasan, gampangnya mereka itu kan mudah meniru dan ada contohnya. Atau bisa juga anak-anak mengalami situasi khusus atau kondisi khusus misalnya anak yang punya gangguan psikis sehingga menjadi agresif.
Tetapi kalau anak (usia dibawah 18 tahun) menjadi pelaku kekerasan maka mereka perlu dibantu, jangan berpikir mereka harus dihukum. Mengapa anak bisa melakukan tidak kekerasan? Bisa jadi dia adalah korban kekerasan sebelumnya, dari orang tuanya misalnya saat melakukan pola pengasuhan. Bisa juga korban kekerasan dari teman atau pihak lainnya.
Bagaimana dengan Ajaran Orang Tua untuk Memukul Balik Anaknya?
Ya, beberapa orang tua ada yang mengajarkan anaknya untuk memukul balik jika mereka menjadi korban. Sebetulnya anak-anak tidak usah dibilangin akan melakukan secara naluri, kalau dibilangin gitu merasa ada pembenaran.
Nah, untuk menumbuhkan kepedulian dan pengendalian diri inilah perlu proses penyadaran, bukan sekedar untuk melindungi diri tapi sebuah kesadaran. Maka dengan peduli benefit apa yang didapat.
Misalnya, orang tua bisa meyakinkan kepada anak jika peduli, lalu menolong dan berhasil menahan diri untuk tidak marah, manfaatnya apa yang aka didapatkan. Penting juga memberikan apresiasi ketika anak tidak membalas.
Hindari juga untuk mengatakan “kalau dipukul diam aja” karena juga tidak pas. Kalau dipukul di sekolah ya teriak, panggil guru atau ibumu jika di rumah. Jadi harus ada alternatif yang harus dilakukan jika tidak boleh membalas atau menyerang.
Orang dewasa adalah orang tua dari semua anak, jadi kalau kita melihat anak sebagai korban kekerasan jangan diabaikan dengan dalih kita dianggap ikut campur. Setidaknya kita peduli dan memberikan empati kepada anak melalui orang tua.
Lalu, jika ada kekerasan di sekolah yang bisa menyebabkan rasa takut pun harus ada kerjasama orang tua dan sekolah. Misalnya ada 1-2 guru di sekolah yang melakukan tindak kekerasan ya tidak tabu untuk mengingatkan, jangan cuma digibahin di belakang tanpa ada solusi.
Nah, itu dia sharing Menyikapi Kekerasan pada Anak. Sebagai orang dewasa yang bisa memberikan keteladanan bersikap kepada anak-anak, berikan perhatian, stop cuek, dan mari kerjasama menghindari tindak kekerasan.

